Jawa Hijriah

Jawa meletakkan tahun baru sebagai pembersihan pusaka. Sesungguhnya pusaka yang benar-benar hendak disuceni bukanlah keris, tombak, dan lain sebagainya. Melainkan pusaka yang terketak pada diri setiap manusia.

Manusia adalah wahanane hyang (perantinya Tuhan). Oleh karenanya, masing-masing peranti ini diberi pamor dengan kualitas kedigdayaan sendiri-sendiri. Jadi, memasuki bulan Muharram atau 1 suro, seseorang terutama dalam hal ini orang Jawa diharapkan mampu memberangkatkan dirinya sebagai pusaka yang lebih suci.

Berhijrah dari penat karat menuju suci dan memunculkan pamor fitrahnya kembali. Orang bisa memilih, akan menjalani sebagai pusaka yang luk, atau pusaka yang lajer.

Repost FB status 13 Oktober 2015

Iklan

Matur Nuwun & Matur Suwun

Murid sekolah jaman dahulu, memberikan hormat kepada guru sebelum memasuki kelas

‘Nuwun’ bisa diartikan permisi sebagai kata kerja yang mengungkapkan wujud penghormatan. ‘Nuwun sewu’ artinya permisi beribu kali. ‘Matur nuwun’ menjelmakan arti ‘nuwun’ menjadi kata sifat yang bermakna kesantunan, kesopanan, penghormatan, penghargaan, diartikan sebagai Terima kasih. Jika diartikan secara lebih mirip, ‘Matur nuwun’ menjadi ‘(saya) mengucapkan penghormatan’.

‘Nuwun’ dari kata dasar ‘nun’, atau ‘nuhun’. Meskipun ‘nuwun’ itu sendiri sudah menjadi kata dasar karena kata ‘nun’ sudah jarang terdengar. Di pedesaan, kata ‘nun’ sering diucapkan ketika seseorang dipanggil. Ia akan menjawab ‘nun’, mempersingkat dari kata ‘nuhun’. Di Sunda kata ‘nuhun’ masih semarak digunakan.


‘Suwun’ berarti ‘minta’.‘Nyuwun’ artinya ‘meminta’. ‘Nyuwun pangapunten’, artinya meminta permaafan. ‘Nyuwun dipundhutke’, artinya ‘meminta diambilkan’ atau ‘meminta dibelikan’. Kata dasarnya dari ‘suwun’.

‘Matur suwun‘ sering digunakan sebagai ‘terima kasih’ juga, mungkin lantaran kemiripan dengan ‘nuwun’. Meskipun demikian kedua kata itu benar dan tidak merusak suasana penghormatan.

Ada kata ‘Nenuwun’ yang artinya ‘berkeluh kesah (merayu) kepada Tuhan’, ‘berdo’a’. Ada pula kata ‘Nyenyuwun’ yang artinya ‘meminta kepada Tuhan’, ‘berdo’a’. Dari kata inilah kemungkinan menjadi cikal-bakal terjadinya kemelesetan persepsi sehingga, ‘Nuwun’ dan ‘Suwun’ menjadi sama.

TETESAN PAGI ILMU BERKAH

Memandang asa, menyunggi harapan

Jika kamu hendak membuat usaha namun tidak cukup memiliki modal uang, atau bahkan minus. Maka kamu bisa gunakan cadangan modal yang kedua. Yakni membuat surplus modal betah tidur sebentar dan betah makan sedikit. Atau mengurangi bukti (makan) lan guling (tidur). Karena sesungguhnya makan adalah modal untuk memendarkan kemanfaatan hidup, dan tidur adalah modal reset atau refresh agar kita tidak kelelahan menjalani kehidupan. Modal ini sering melimpah pada satu pihak dan sering sebaliknya pada pihak lain. Pihak yang melimpah sering menggunakannya sebagai kelalaian, tidak lagi menjadi modal kemanfaatan, sehingga ia menghamburkan modal dan menjadikan hidupnya tidak manfaat. Kegemaran makan diperumpamakan sebagai ulat, sedangkan kegembiraan berpuasa diperumpamakan kupu-kupu yang menghiasi kehidupan.

Makan sedikit akan memberikan modal lahir, dimana dirimu akan mendapat pengetahuan dan praktek langsung di lapangan bahwa dengan makan yang sedikit (puasa) akan menjadi pihak yang terampil mengatur dan disiplin dalam menata keperluan lahiriah. Dalam pandangan ekonomi, mengurangi konsumsi akan menambah porsi quota yang bisa ditabung (saving). Tabungan yang bisa diperoleh dari berpuasa mungkin bukan berupa peningkatan rupiah atau omset. Namun tabungan itu bisa jadi berisi ilmu manajemen, kedisiplinan diri, kejujuran, kepribadian yang stabil, kesabaran, ketenangan diri. Pelaku ekonomi yang memiliki modal mental seperti ini akan lebih piawai dalam mengawal jenis usaha apapun yang haq.

Modal yang kedua adalah mengurangi waktu tidur, jadi memperpanjang waktu melek. Cara ini akan mengenalkan seseorang yang melakukannya menjumpai berkah bathin. Kenapa bathin, karena seseorang yang melek lebih panjang akan mendapatkan waktu lebih panjang dalam mendukung aktifitasnya. Berkah waktu ini otomatis akan membuka peluang lebih lebar dan kesempatan lebih panjang jika diisi dengan kegiatan yang produktif. Dimana peluang dan kesempatan tidak diperoleh oleh oranglain yang memilih jagkauan waktu lebih pendek dalam aktifitasnya.

Kemudian setelah mendapat berkah lahir dan bathin, sedangkan masih belum memiliki modal untuk membuka usaha. Tidak punya tempat strategis, tidak punya modal untuk merintis.

Modal merintis ini bisa didapat dari modal lahir dan bathin, sementara masih ada berkah yang ketiga yakni berkah lingkungan. Ada suatu lingkungan yang mendukung iklim usaha karena dikaruniai potensi konsumen yang ramai. Tidak semua lingkungan mendapat keuntungan ini. Syukuri berkah lingkungan ini dengan didukung keprihatinan dan kerja keras. Keprihatinan direpresentasikan dengan berpuasa. Dan kerja keras direprentasikan dengan mengurangi tidur. Usaha yang bisa diwujudkan tidak perlu menggunakan standar usaha yang telah jalan atau bahkan sukses. Ambil standar paling minimal yakni standar rintisan. Rintisan ini ternyata tidak selalu harus dimulai dengan betapa lengkap yang diniagakan dan betapa kokoh bangunan yang digunakan. Melainkan betapa lengkap mentalnya dalam mengkonversi kesulitan sebagai tantangan dan alih-alih justru menjadi kemudahan. Dan betapa kokoh optimisme kepada Allah SWT yang tidak pernah membiarkan usaha khoir seseorang sia-sia.

Adakah makna lain dari puasa? Seperti kita tahu. Puasa yang secara lahir, adalah mengurangi intensitas jadwal makan menjadi rentang lebih panjang. Puasa bukan untuk mendapat buka yang lengkap dan enak. Sesungguhnya Puasa untuk mendapatkan buka yang nikmat, dimana kenikmatan ini bisa diperoleh dengan menu sederhana dan biasa, namun diluar-biasakan dengan rasa syukur yang besar. Nikmat itu bukan kamu makan hidangan mahal di tengah anak-anak kecil yang kelaparan. Apalagi jika perutmu kenyang, jangankan nikmat, enak pun tidak. Sehingga puasa adalah isyarat untuk memperbanyak rasa syukur, tidak terburu-buru meraih keenakan hidup, untuk menjumpai waktu yang tepat yang menjadikan keenakan itu menjadi nikmat. Terbitnya matahari, sebagai lambang kemeriahan, keberadaan, kemelimpahan, keluasan. Sedangkan terbenamnya matahari, sebagai amsal kesunyian, kebersahajaan, ala kadarnya, kesempitan. Namun justru di saat yang seperti ini kita baru diperbolehkan untuk mereguk air dan menikmati hidangan. Sedangkan pada saat sedang terhampar banyak hidangan di siang hari, justru tidak diperbolehkan. Ini adalah bentuk tata kelola, ini adalah tabungan, bahwa yang kita tabung adalah kadar kenikmatan. Akumulasi kenikmatan ini diunduh di saat yang tepat. Anjurkanlah dirimu sendiri untuk tidak terburu-buru mengambil keuntungan jika belum saatnya, karena keuntungan yang cepat diambil bisa jadi adalah modal yang diperlukan untuk menggulirkan usaha. Ambil keuntungan saat sudah tepat waktu, dimana kita sudah dalam kondisi yang tenang, tidak dibuai prioritas yang salah, dan tidak bermanja dengan kemudahan. Kita tidak dianjurkan puasa nge-bleng, yang tidak makan dan minum sampai sehari semalam, oleh Allah kita diwajibkan untuk berbuka setelah matahari terbenam. Artinya kita tidak dianjurkan untuk membiarkan kita terdera penderitaan karena karunia Allah tidak pernah berhenti ditaburkan. Ambil yang telah dikaruniakan namun dengan batasan yang tepat.

Adakah makna lain dari melek? Melek merupakan kondisi terjaga, artinya kondisi dimana kewaspadaan kita aktif secara lebih optimal daripada ketika kita sedang tidur. Poin utamanya adalah terjaga dan waspada. Waspada terhadap potensi kemalasan. Kemalasan ini jika dipiara akan menjadi pihak utama yang minta dituruti dan dimuliakan. Kemalasan mengubah dirinya menjadi raja karena kita sokong dan tumbuhkan dengan singgasana utama dalam bathin kita. Apa yang sajakah yang perlu terjaga? Mata, Hati, Pikiran, Panca Indera, Rasa Syukur.

Namun, bagaimana jika berkah lingkungan juga tampak tidak kondusif? Maka tetap keyakinan dan baik sangka kepada Allah SWT, yakinlah bahwa di setiap titik di sudut bumi selalu ada berkah Allah yang ditaburkan, sehingga di setiap titik utama habitat kehidupan manusia itu memungkinkan manusia bertahan hidup, sebab bisa bernafas. Dimana ia ia bisa bernafas, maka di tempat itu pula ia bisa menangis namun juga bisa tertawa. Bisa berduka bisa juga gembira, bisa nelangsa bisa juga bahagia. Bisa menyerah bisa pula berjuang.

Jika lingkunganmu mendukung, niatmu mendukung, kepercayaan dirimu mendukung, keyakinanmu mendukung. Cobalah lakukan riset, usaha apapun yang relevan ditempuh, buatlah lipatan sepuluh. Yang dijajakan sebanyak 10 buah, Setiap 10 menit lafazkan: “Ya Allah Ya Fattahu Ya Rozzaq” sebanyak 10 kali. Tuliskan “Usaha Tirakat. hanya dibuat dalam 10 pcs”. Semoga berkah lahir bathin, dan selamat datang pengusaha surga. Pengusaha yang tidak bekerja untuk berpamrih surga namun pengusaha yang memang seolah hadir dari surga ke dunia, untuk kelak kembali ke hunian utama. Tidak kehilangan tanggung-jawab kemanusiaannya sebagai khalifah di muka bumi namun juga tidak kehilangan kesadaran dirinya sebagai abdillah di lintas langit dan galaksi.

Wallahua’lam (hamung Gusti Allah ingkang sayekti kagungan Ngelmu)
pangapunten bilih keliru.
Ungaran, 10 Oktober 2022

Sayang Menyayangi

Dalam menyayangi tetap penting menggunakan analisa ciamik, agar menyayangi api tak lantas menyentuh, memeluk, atau membelainya seperti bisa kita lakukan untuk tanah. Menyayangi api butuh pengetahuan jarak. Menyayangi tanah butuh keterlibatan.

Menyayangi angin tak bisa dengan mewadahi atau mengalirkannya sebagaimana kita menyayangi air. Menyayangi angin butuh pengetahuan membebaskan, sedangkan menyayangi air butuh kepandaian mempertahankannya.

Ketika api masih berupa api, ia panas namun menjunjung pengabdian, ia memang panas dan membara, namun tunduk kepada batas. Saat air masih berupa air, ia menjunjung kerendah-hatian dan mengusung kesejukan, ia mengalirkan kejernihan dan kesegaran. Saat angin masih menjadi angin, ia memang bebas mengembara seolah tak tentu arah, padahal ia paling paham arah dan tinggi rendah, ia bertugas seiring langkah. Ketika tanah masih sebagai tanah, ia mengabdi dengan diam namun tak henti menumbuhkan dan menyajikan segala rasa dari sanubarinya yang terdalam.

Namun, tatkala keempat pengabdi ini (api, angin, air, tanah) diperbantukan ke dalam diri seseorang, makhluk yang tertorehkan Kuasa-Nya. Para pengabdi ini terpaksa patuh kepada kehendak seseorang yang diiringinya. Manusia yang penuh kerelaan akan menggunakan kekuasaan dengan penuh tanggung-jawab dan kejujuran. Watak ini serta merta akan memberikan kegembiraan bagi mereka, lantaran mereka masih bisa melanjutkan pengabdian sesuai kodratnya. Sedangkan jika yang diiringi adalah manusia yang penuh rasa kuasa yang menjadikan ia tamak dan pongah, mereka nestapa dan tertindas karena harus membantu hawa nafsu yang bertentangan dengan jiwa pengabdiannya. Manusia yang rela akan lebih senang bersenjata cahaya, yakni menerangi, mencerahkan, membawa kegembiraan, ketentraman dan kedamaian. Sedang manusia yang tamak ia lebih senang bersenjata api, ia menebar hawa panas dan menghanguskan. Mengipas-ngipasi dada untuk berkobar dan membara meski hanya dengan cara sederhana seperti menggunjing, membuat berita palsu, mengadu dengan memutar-balikkan fakta.

Rasa sayang butuh takaran dan porsi terukur, oleh karenanya cara menyayangi pun bermacam jalurnya. Ada yang harus dekat, ada yang harus berjarak, ada yang harus dipertahankan, ada pula yang justru harus dibebaskan. Bukan bermaksud membedakan dan tidak adil, tapi karena sayang hendaknya bukan hanya produk dari hati namun juga produk dari akal.

HITUNGAN TUJUH BAGIAN DIRI

PETUNG PITUNG PERANGAN SARIRA /
HITUNGAN TUJUH BAGIAN DIRI.

Tahukah Anda bahwa setiap diri manusia memiliki beberapa bagian. Berikut adalah tujuh kesatuan dalam diri manusia, sbb:

Arwah —- untuk manunggal
Nur Muhammad —- untuk mengabdi
Bleger —- untuk tampil
Jiwa —- untuk bertindak-tanduk
Sanubari —- untuk merasakan
Naluri sesrawungan —- untuk melebur
Nurani —- untuk kendali diri
Arwah —- untuk manunggal

Tujuh bagian ini ditorehkan pada hari dalam satu minggu, ataupun saptawara. Radite (Ahad, Ngad, Minggu, Sunday). Soma (Senin, Senen, Monday). Anggoro, Budho, Respati, Sukro, Saniscoro/Tumpak. Dst.

MENGINGAT BAGIAN DIRI MELALUI
PERGULIRAN HARI DALAM SEMINGGU

AHAD – NGAD – MINGGU: Kang Akaryo Jagad
Arwah —- Ahad —- Tunggal —- terurai dalam lima —- lima waktu —- Lima kesatuan —- Empat kiblat Satu pusat. Papat kiblat lima pancer —- nilai: 5. Hari Minggu = HARI ARWAH

SENIN – SENEN: Isine Unen-unen
Nur Muhammad —- Ikhlas mengabdi —- 4 Pengabdian —- 4 Arah —- 4 sifat —- Sifat api, sifat air, sifat tanah, sifat angin —- nilai: 4. Hari Senin = HARI NUBUWWAH

_________________________________
Bagus jika mau diisi dengan berpuasa, sebagai peringatan kelahiran diri sebagai abdi
———————————-

SELASA – SELOSO: Selo-selone diisi Sing Kuwoso
Bleger —- Tampil —- tampak —- terlihat —- ada —- mawujud —- tiga dalam satu —- tampil wadagnya, tampil jiwanya, tampil ruhaninya —- tampil ruhani melalui jiwanya —- tampil jiwanya melalui wadagnya —- wadag, jiwa, ruh —- nilai: 3. Hari Selasa = HARI MANUSIA/INSANIAH

RABU – REBO: Nglereb bebodho
Jiwa —- representasi ruh —- belahan tujuh dari Tunggal —- mejikuhibiniu —- 1. jiwa eksistensi, 2. Jiwa berempati, 3. Jiwa berfikir, 4. Jiwa berkorban, 5. Jiwa berjuang, 6. Jiwa bersaksi, 7. Jiwa manunggal —- nilai: 7. Hari Rabu = HARI PERTOLONGAN

KAMIS – KEMIS: Kumo kang amis
Sanubari — hasrat peningkatan diri —- dorongan untuk berguna dan berfungsi —- kehendak untuk memperoleh legitimasi —- Delapan macam sanubari —- empat sanubari kiri, empat sanubari kanan —- Baladah, Khianah, Kitman, Kidzib >< Sidiq, Tabligh, Amanah, Fathonah —- Delapan Kumo amis—- 1. kumo lungkung, 2. kumo luhung, 3. kumo laki/ayu, 4. kumo aji, 5. adi-gang, 6. adi-gung, 7. adi-guno, 8. adi-waseso —- nilai: 8. Hari Kamis = HARI RISALAH

_________________________________
Bagus jika mau diisi dengan berpuasa, sebagai peringatan kelahiran diri sebagai khalifah
———————————-

JUM’AT – JEMUWAH : Jenjem ketemu kawah
Naluri sesrawungan —- untuk menyapa —- untuk menebar salam —- rahmatan lil ‘alamiin —- menjadi berkah di segala arah —- 1. Depan, 2. Belakang, 3. Kiri, 4. Kanan, 5. Atas, 6. Bawah —- Bulat —- Totalitas —- nilai: 6. Hari Jumat = HARI BERHIMPUN

SABTU – SEPTU : Ngisep howo kang metu
Nurani —- Pengawasan diri — pengendalian dari 9 hawa —- Sembilan pintu keluar masuknya fitnah dan berkah —- Sembilan pintu lalu lintas hawa nafsu dan karunia —- Sembilan pintu musibah dan pertolongan —- Sembilan pintu kesulitan dan kemudahan —- nilai: 9. Hari Sabtu = HARI MAWAS DIRI.

Agus wibowo,
08 April 2022

Mengapa orang Jawa Tengah dan Timur suka teh manis sedangkan orang Jawa Barat suka teh tawar?

Mengapa orang Jawa Tengah dan Timur suka teh manis
sedangkan orang Jawa Barat suka teh tawar?

Sebuah kebiasaaan sering berangkat dari potensi daerah, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Bukan tidak mungkin ini juga terjadi pada kebiasaan minum teh. Jawa Barat adalah daerah yang lebih banyak menghasilkan daun teh daripada Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Sedangkan sebaliknya, Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki posisi sebagai produsen gula pasir yang cukup melimpah. Tahun 1965, Jawa Tengah merupakan penghasil gula pasir terbanyak di seluruh Indonesia.

Keterangan ini bisa ditemukan dari data. Berikut daftar daerah penghasil gula pasir dan daerah penghasil daun Teh terbesar di Indonesia :

Daun Teh

Cisarua Jawa Barat, Ciwidei Jawa Barat, selain memang ada beberapa daerah di Jawa Tengah yang produktif menghasilkan daun teh seperti di Brebes Jawa Tengah, Wonosobo Jawa Tengah, dan di Malang propinsi Jawa Timur. Juga ada penghasil teh dari luar pulau Jawa, ada beberapa daerah di Sumatera yang bagus hasil teh-nya.

Gula Pasir

Situbondo, Bondowoso, Jember, Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Blitar, Madiun, Magetan. Semua daerah ini ada di propinsi Jawa Timur. Sedangkan dari propinsi Jawa Tengah ada di Sragen, Karanganyar, Klaten.

Kondisi ini serta merta bisa memberi dampak yang cukup langsung akan kebiasaan masyarakatnya. Dalam satu perspektif gula pasir dianggap langka dan termasuk mahal sehingga menggiring pola untuk mengkonsumsi gula pasir dengan porsi yang cukup. Sebaliknya ada satu perspektif bahwa gula pasir adalah barang yang sangat mudah ditemui dan sehari-hari sehingga alur menikmati hidangan yang manis baik makanan maupun minuman menjadi wajar disajikan.

TOLAK BALAK KESOMBONGAN

Kebanyakan orang tak akan mau menjadi sombong. Apalagi kalau sombong itu terindikasi melalui sikap gemagah, bicara besar, dan berjalan dengan berkacak pinggang. Sangat sedikit orang berminat memilih pembawaan seperti itu karena sangat tampak sebagai identitas kesombongan. Bagaimana jika ternyata bukan demikian? Bagaimana jika makna kesombongan itu tidak hanya mudah terdeteksi dari penampakan jasadiah. Bagaimana jika lebih modern dan canggih virus kesombongan itu terinstall pada diri manusia secara lembut sehingga yang bersangkutan saja kadang tidak mengenali itu sebagai kesombongan, apalagi oranglain.

Pertemuan Anoman dengan setan. Lukisan Bali
Anoman dan para Buto

Sikap utama dari kesombongan adalah menyepelekan dan menganggap remeh persoalan. Ia dengan pembawaan apapun, baik lembut santun dan sopan, tetap saja telah mempraktekkan prinsip utama kesombongan dalam dirinya jika mudah menyepelekan, gampang meremehkan. Hal ini tanpa sadar juga sering terjadi pada diri kita. Sehingga demi mewaspadai membumbungnya kesombongan ini, maka harus ada tata kelola agar; apabila memang kesombongan itu tak kunjung hilang dari dalam hati, paling tidak bisa terpakai sebagai manfaat yang tepat baik bagi diri sendiri maupun oranglain. Hal ini mengacu pada keyakinan bahwa adanya kesombongan itu karena tak muncul dengan sendirinya namun dengan berbagai macam latar belakang yang berlapis-lapis.

Selama mengawal keluarga gugurgunung, yang sejak awal saya tanamkan adalah sikap menggugurkan-diri. Jangan umuk dan sombong, tak perlu pamer kesaktian, kepandaian, kekayaan, kepopuleran, dslb. Saya tak akan peduli dan kagum pada hal-hal itu, apalagi jika semuanya hanya untuk meningkatkan mutu kesombongan seseorang secara laten. Saya sendiri juga akan memiliki sikap lebih tegas kepada orang-orang yang meremehkan. Ada yang harus saya tegur karena ketidak-tepatannya dalam memegang janji waktu yang tak ada konfirmasi. Ada yang perlu saya urai hal-hal pada dirinya yang mungkin tidak mampu ia baca untuk bisa diperbaiki, bukan untuk mempermalukannya namun untuk menjadi rem atas suatu sikap berpotensi bahaya pada hidupnya. Ini tidak kepada satu atau dua orang. Saya selalu keras kepada pola-pola yang berpotensi kesombongan. Mungkin ini adalah salah satu fungsi adanya kesombongan dalam diri, bukan untuk menyombongkan namun untuk dikonversi sebagai alat paling handal untuk mendeteksi getaran kesombongan.

Dari sekian banyak toleransi yang bisa saya upayakan agar tetap terjadi harmoni, ada satu sikap yang tidak mudah saya toleransi. Yakni sikap mengabaikan, meremehkan, menganggap gampang persoalan, dan menyepelekan ekses/akibat yang akan terjadi. Orang yang melakukan tindakan seperti ini, tidak harus pececa-pecece, tak harus malang-kerik. Hal ini bisa dilakukan pula oleh orang yang sangat tampak menghormati, sangat santun dalam berbicara, begitu menawan pembawaannya. Inilah mengapa sikap sombong digambarkan sangat lembut dengan diumpamakan sebiji sawi. Sebab tak satupun dari kita bisa benar-benar lepas dari sikap sombong yang bekerja secara sistematis dan jitu mempengaruhi policy yang kita buat. Kita akan terpanggang dan gosong dengan bara yang kita himpun sendiri, dimana bara itu dikumpulkan melalui perkatan, pikiran, dan perbuatan yang selalu gemar menyepelekan. Berkata bohong, jika berjanji tak menepati, dan jika dipercaya mengkhianati. Kepada si A berbohong dengan dalih si B, kepada si B berbohong dengan dalih si C, dlsb. Orang yang selalu dekat kebohongan akan berjauhan dengan kejujuran dan lebih mudah berjumpa dengan sikap menolak kebenaran.

Oleh karena betapa hal kesombongan ini tak mudah untuk dielak, maka ada empat hal yang bisa dipegang sebagai tolak-balak kesombongan. Pertama, yang perlu dilakukan adalah jangan menolak kebenaran, tidak meremehkan oranglain, tidak menyepelekan persoalan. Jangan sampai kita menjadi pihak yang mengawali tersulutnya kesombongan dengan cara paling mendasar yakni tidak meremehkan oranglain. Pada hal ini maksud oranglain bukan sekedar orang yang bukan diri kita, melainkan hal-hal lain yang juga bukan diri kita, bajunya, sukunya, bahasanya, adat istiadat, hingga waktu dan umur. Jangan sampai kita meremehkan karena bajunya, karena strata pendidikan, karena latar-belakang ekonomi. Jangan sampai kita meremehkan karena bahasanya, sukunya, adat istiadatnya. Jangan sampai pula kita meremehkan waktu yang ia emban dan jangan pula meremehkan seseorang karena umurnya.

Yang kedua, selalu memilih sikap luhur. Pilihan ini adalah kesadaran fitrah manusia yang selalu ingin menjadi bagian dari keluarga rukuk (keagungan) dan sujud (keluhuran). Sikap menjunjung orang-lain, memuliakan siapapun yang hendak bergandengan tangan, dan menghormati keberadaannya adalah sikap mayor yang diutamakan oleh keluarga rukuk-sujud dalam membangun pergaulan. Karena sikap itu adalah sikap luhur yang mana setiap orang secara naluriah tak menyukai diremehkan, direndahkan, dilecehkan. Sehingga sikap luhur menjadi tanya-jawab seluas-luas makhluk yang memang ingin mbangun tresno karena Allah. Apabila sikap ini diambil oleh kedua belah pihak maka akan terjadi sikap saling menjunjung dan memuliakan satu dengan yang lain. Berarti hubungan dan jalinan antar keduanya adalah hubungan yang menganut keagungan dan keluhuran.

Dalam kenyatannya, tak semua yang kita junjung dan kita muliakan berminat menyatakan sikap bathin yang sama meskipun sikap lahiriahnya tampak serupa. Kepada situasi ini, kita akan gunakan poin ketiga, yakni kesadaran akan luka. Kasih sayang, perhatian dan cinta yang kita tebarkan akan menerpa sekian bentuk, wujud, rupa  warna. Sehingga semakin banyak yang kita cintai, maka tiap-tiap yang kita cintai itu masing-masingnya akan memiliki potensi melukai. Ada yang melukai dengan cara kasar dan ada pula yang melukai dengan cara halus. Sebagai misal, kita mencintai gelas namun pada saat gelas tersebut pecah menjadi beling, maka kita perlu lebih berhati-hati karena pecahan akan lebih berpotensi melukai. Sisi tajam beling ini merupakan sebab terjadinya luka, adanya beling ini karena tak lagi bertahan sebagai keutuhan gelas, dan adanya ketidak-utuhan itu karena tak tahan terhadap benturan keras entah berupa benda atau temperatur yang ternyata tak kuat diantisipasi. Jadi poin ketiga ini adalah, kita akan terus menghormati dan menjunjung orang-orang yang bersungguh-sungguh. Meskipun kadang kesungguhannya dibawakan dengan lagak yang kadang tampak tidak sopan dan ojlak-ojlok. Sedangkan bagi yang tidak bersungguh-sungguh berarti adalah yang lebih suka menyepelekan dan meremehkan, meskipun perangaianya lembut, santun, tampak penuh hormat, namun yang seperti ini tak bisa menutupi sikap utama hidupnya yang bermuatan kesombongan. Orang seperti ini lebih rentan untuk pecah dan menjadi beling, sehingga paling berpotensi melukai. Ada yang kita perlu tetap sabar apabila luka diakibatkan dari kebodohan atau ketidak-tahuan. Kita mungkin perlu memaafkan apabila luka tersebut diakibatkan dari keteledoran dan ketidak-telitian meskipun sudah berusaha teliti. Namun tak menutup kemungkinan pula, luka ditimbulkan oleh pihak yang sudah tahu, telah paham, mengerti risiko, mampu memindai batasan, namun tetap nekat menorehkan luka, sikap yang bisa diambli adalah syukur karena mendapat kesempatan untuk lebih matang menyikapi hidup dan juga berkurang satu urusan atas hidup kita berkaitan orang tersebut. Keindahan bersama hanya terjadi ketika terjalin, dan pada saat jalinan ini hanya gencar dilakukan oleh satu pihak saja maka saatnya mengambil sikap ke-empat.

Sikap ke-empat adalah ilmu luweh. Ilmu ini adalah sikap membiarkan, men-terserah-kan, men-sak karepmu-kan, kepada siapapun yang telah memiliki pilihan sikap, pandangan hidup, dan prinsip nilai yang ia anut dan ia jadikan pegangan hidup. Itu adalah hasil otentik dari proses tafakurnya yang tak boleh kita intervensi meskipun pilihannya tersebut tak sama dengan yang kita pilih. Apabila ternyata pilihan sikap, pandangan dan prinsip nilai yang mereka miliki adalah sama dengan yang kita genggam, maka secara alamiah akan terjalin dan menjadi pihak yang terhimpun secara lahir bathin. Sedangkan kepada yang memiliki sikap, pandangan, dan prinsip yang berbeda, kita tak punya tanggung-jawab apapun dan tak perlu memaksakan diri untuk terhimpun. Itu adalah konsekuensi kehidupan, dimana perbedaan itu bertebaran di berbagai tempat yang mana tak satupun dari perbedaan ini menjadi penghalang untuk kita cintai dan tak juga menjadi pencegah untuk kita hindari. Ilmu luweh ini didapat dari bibit kesombongan yang kita fungsikan sebagai alat komunikasi. Kita perlu gunakan bahasa kesombongan untuk orang-orang yang sombong karena bahasa yang lain akan mudah ia sepelekan dan remehkan dengan banyak dalih dan argumen-argumen yang tetap ingin mempertahankan kebenarannya melanggengkan kesombongan sebagai jalan utama yang ia tempuh. Terkadang bahasa paling dalam manusia justru hanya bisa diungkapkan dengan diam karena lesan dan perkataan tak bisa membahasakannya lagi. Demikianlah uraian tentang kesombongan, semoga kita semua mendapat maghfirah dari Gusti Allah dan tidak menjadi golongan orang-orang yang sombong.

Sebagai penutup, berikut salah hadist yang tentang kesombongan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim).

23 Maret 2021